Oleh : Dr. Djuwari, M.Hum
MEPNews.id —- Relawan Jurnal Indonesia (RJI) sebagai perkumpulan dosen-dosen muda berpikiran cemerlang ibarat generator mesin penggerak. Kinerjanya bersifat relawan, namun secara langsung dan tidak langsung, mereka pendobrak gerakan penerbit Open Journal System (OJS). Saya baru bercengkerama secara massal ketika pertemuan beberapa bulan lalu di Kampus C, Universitas Airlangga. Namun, saya masih tergabung dalam media social WhatsApp (WA) RJI.
Sebagai pendobrak, mereka sangat berjasa dalam memberikan pengetahuan dan keterampilan para anggotanya. Lebih hebat, mereka juga sering mengadakan lokakarya. Kegiatan ilmiah ini berupa pelatihan pengelolaan OJS. Maklum, bagi dosen-dosen senior yang sudah berkepala lima ke atas, agak lambat dalam bermain IT (Information Technology).
Itu sebabnya, jika ada persoalan sedikit saja, pengelola OJS bisa berkonsultasi melalui media WA. Banyak grup WA terkait pengelolaan OJS. Ada juga WA group RJI. Ada juga Khusus OJS bidang ilmu ekonomi. Ada pula WA grup sejenis. Semuanya berposting seputar permasalahan OJS. Paling banyak bagi para pemula pengelola jurnal.
Banyak variasi pertanyaan seputas OJS. Karena anggotanya bercampur aduk, mulai dari pemula, menengah, dan lanjutan, maka pertanyaannya bisa sederhana (bisa saja menurut top leaders RJI), namun ada pula pertanyaan yang sudah mengarah pengelolaan medekati ambang nilai akreditasi. Semuanya terjawab meskipun kadang jawaban itu sudah pernah tersampaikan. Namanya anggota banyak dan tidak selalu online, bisa saja pertanyaan yang sudah dilontarkan ditanyakan ulang.
Lebih unik, jika persoalannya itu sama dan dirasakan sebagai masalah bersama. Jika ini terjadi, bagi saya, saya hanya menyimak saja, sambil menunggu jawaban (bahasa Jawanya nunut takon..hahaha). Intinya, RJI memiliki eksistensi yang sangat vital. Itu sebabnya, keberadaan organisasi Relawan jenis ini sangat berperan bagi pendobrak peningkatan pengelolaan OJS.
Dalam rangka keberlanjutan (sustainability) RJI, alangkah baiknya jika RJI ke depan arahnya tidak sekadar memberikan bimbingan seputar pengelolaan OJS saja, melainkan memantau agar setiap jurnal tidak terlalu tergesa-gesa menerbitkan semua artikel. Tidak sedikit, berbagai informasi, terkait undangan (invitation) menerbitkan artikel. Misalnya saja, mengundang call for papers, bulan depan akan terbit.
Sebagai jurnal ilmiah, ada proses ilmiah. Proses itu di tangan para reviewer (penyunting isi). Proses ini akan lebih afdol jika bobot penelitian itu mulai dijadikan kunci utama. Kontributor artikel itu, memberikan karya ilmiah yang benar-benar memberikan wahana baru, berkontribusi pada ilmu dan teknologi. Itu sebabnya, ke depan akan lebih afdol jika RJI juga memantau semua jurnal agar tidak mengundang (invite) call for papers dengan segera terbit.
Saya pernah mengikuti simposium nasional di Jakarta kurang lebih pada 2013. Saat itu, acaranya diadakan oleh tiga lembaga: Dikti, LIPI, dan sebuah perguruan Tinggi di jakarta. Diundang juga para staff Scopus dan Thomson. Saat itu, disampaikan kesepakatan bahwa, artikel jurnal paling cepat terbit itu minimal 3 bulan. Ada yang 6 bulan, dan bahkan ada yang setahun lebih. Semakin lama prosesnya, semakin baik mutunya. Di samping perbandingan antara jumlah artikel masuk dan yang ditolak dan diterima: persentasenya.
Dalam ISO (International Standard Organisation) jurnal internasional, paling cepat hasil review satu orang itu seminggu, direvisi oleh author paling cepat juga seminggu. Kemudian ke reviewer kedua, satu minggu. Dikembalikan lagi ke author satu minggu. Hasilnya jika benar-benar diterima dan sama-sama cepat semingguan, bisa minimal satu bulan. Kemudian, hasil cek plagiasi dan ketidakcocokan referensi, termasuk uji gaya selingkung itu pun minimal satu minggu an jika cepat. Ada pula yang lebih dari seminggu.
Proses layout, DOI (Digital Object Identifier), penataan gaya selingkung, menurut pengalaman saya pribadi membutuhkan waktu juga. Belum lagi, sambil menunggu artikel lain. Karena di jurnal saya setiap terbit 13 artikel dan tiap catur wulan atau tiga kali setahun, maka proses penayangannya antaredisi itu pun masih memakan waktu. Itu sebabnya, kalau ada call for papers dengan janji belan berikutnya terbit, agak kurang tepat. Mereka perlu juga diberi bimbingan agar itu tidak terjadi.
Apa pun yang dilakukan RJI selama ini, kita patut acungi jempol. Namun, ke depan harapan untuk pemantauan penerbitan artikel secara instan perlu juga bimbingan ke arah itu. Sementara memang banyaknya jurnal ilmiah masih adaptasi ke arah mutu dengan artikel masuk dan proses review. Kinerja RJI selama ini sebagai pendobrak peningkatan kuantitas OJS sudah membuktikan dengan jumlah jurnal OJS selama ini. Ketika saya pamerkan perkembangan jurnal DOAJ dan OJS di Malaysia dua bulan lalu, para peserta dari berbagai negara banyak yang geleng-geleng kepala. Top markotop.
Itu sebabnya, jika dikabulkan, alangkah baiknya pemerintah juga memberikan penghargaan kepada penggerak RJI. Semoga pemerintah membaca ini. Selamat berelawan dan bersemangat serta semoga tetap jaya. Hidup RJI. Salam buat semua penggerak RJI. ***
Penulis adalah : Pengamat Pendidikan dan Sosial, President of International Association of Scholarly Publishers, Editors, and Reviewers (IASPER), Dosen Bahasa Inggris STIE Perbanas Surabaya.
Berita ini disadur dari: https://mepnews.id/2017/12/24/rji-pendobrak-open-journal-system/

RJI Pendobrak Open Journal System

Post navigation